Selasa, 28 Mei 2013

Entah kenapa setiap malam saya masih menangisi kamu yang sudah memberi luka  dan membiarkan saya terikat dengan sejuta tanda tanya. Apa saya terlalu menikmati rasa sakitnya? Bukan kah kita saling sayang? Tapi kenapa hanya saya yang membenci perpisahan kita? Sedangkan kamu seakan-akan menemukan hidup yang lebih indah tanpa adanya saya. Kamu pergi saat saya memintamu memberi saya kesempatan untuk bersikap lebih baik.

Salahkah saya menunggumu untuk kembali atas nama cinta? Ya, karena saya terlanjur mencintaimu dan merasa berdosa jika saya melepasmu dan membiarkanmu pergi begitu saja. Kalau boleh jujur, saya sudah terlanjur menjadikanmu tujuan saat saya beranjak dewasa nanti. Namun bagimu, saya hanya persinggahan, bukan tujuan.

Saya merindukan kita yang dulu. Bukan kita yang sekarang yang saling menyimpan rasa sakit dan mengemis kebahagiaan. Kita hanya butuh waktu untuk mendapatkan kebahagiaan. Dan jelas, 21 hari bukan waktu yang cukup untuk kita siap menggenggamnya.

Kamu seperti angin yang bertiup ke arah saya dan meninggalkan debu di mata, lalu membawa saya terbang ke langit mendung, kemudian menghilang. Apa kamu tidak tau apa itu sakit? Kalau kamu tau kenapa kamu membiarkan saya merasakannya? Apa rasa sakit itu menyenangkan untukmu? Saya tidak tau.  Saya hanya bisa berharap jawabannya akan datang di mimpi saya, meskipun pertanyaan itu selalu mencegah saya terlelap tidur saat langit mulai hitam.

Saya berjanji, jika kamu datang kembali untuk memperbaiki dinding cinta kita yang retak, saya akan buatkan selimut yang saya rajut dengan benang kesetiaan, agar kamu bisa merasa nyaman beristirahat saat merasa lelah.


Saya mencintai kesempurnaanmu dengan segala keterbatasan yang saya punya. Kita memulai ini semua dengan alasan cinta. Dan saya tidak ingin perpisahan dengan alasan apapun. Kecuali waktu yang cemburu melihat kita terus bersama kemudian memisahkan kita. Maukah kamu mencobanya lagi sayang? Saya akan menunggumu di depan pintu kebahagian! love you.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar