Entah kenapa setiap malam saya masih menangisi kamu yang
sudah memberi luka dan membiarkan saya
terikat dengan sejuta tanda tanya. Apa saya terlalu menikmati rasa sakitnya?
Bukan kah kita saling sayang? Tapi kenapa hanya saya yang membenci perpisahan kita?
Sedangkan kamu seakan-akan menemukan hidup yang lebih indah tanpa adanya saya.
Kamu pergi saat saya memintamu memberi saya kesempatan untuk bersikap lebih
baik.
Salahkah saya menunggumu untuk kembali atas nama cinta? Ya,
karena saya terlanjur mencintaimu dan merasa berdosa jika saya melepasmu dan
membiarkanmu pergi begitu saja. Kalau boleh jujur, saya sudah terlanjur
menjadikanmu tujuan saat saya beranjak dewasa nanti. Namun bagimu, saya hanya
persinggahan, bukan tujuan.
Saya merindukan kita yang dulu. Bukan kita yang sekarang
yang saling menyimpan rasa sakit dan mengemis kebahagiaan. Kita hanya butuh
waktu untuk mendapatkan kebahagiaan. Dan jelas, 21 hari bukan waktu yang cukup
untuk kita siap menggenggamnya.
Kamu seperti angin yang bertiup ke arah saya dan
meninggalkan debu di mata, lalu membawa saya terbang ke langit mendung,
kemudian menghilang. Apa kamu tidak tau apa itu sakit? Kalau kamu tau kenapa
kamu membiarkan saya merasakannya? Apa rasa sakit itu menyenangkan untukmu? Saya
tidak tau. Saya hanya bisa berharap
jawabannya akan datang di mimpi saya, meskipun pertanyaan itu selalu mencegah
saya terlelap tidur saat langit mulai hitam.
Saya berjanji, jika kamu datang kembali untuk memperbaiki
dinding cinta kita yang retak, saya akan buatkan selimut yang saya rajut dengan
benang kesetiaan, agar kamu bisa merasa nyaman beristirahat saat merasa lelah.
Saya mencintai kesempurnaanmu dengan segala keterbatasan yang
saya punya. Kita memulai ini semua dengan alasan cinta. Dan saya tidak ingin
perpisahan dengan alasan apapun. Kecuali waktu yang cemburu melihat kita terus
bersama kemudian memisahkan kita. Maukah kamu mencobanya lagi sayang? Saya akan
menunggumu di depan pintu kebahagian! love
you.